Gue selalu tersenyum sinis mendengar mereka yang terlalu membenci perokok, seolah merokok itu dosa. Kenapa? Karena menurut gue mereka terlalu terbuai oleh kampanye anti-rokok yang "looks cool" dan tidak mampu melihat secara luas.
Gue nggak pernah merasa keren dengan merokok, tapi kok lu merasa keren dengan nggak merokok? Kalau lu segitu bencinya dengan rokok, stop consuming junkfood then. Cekal itu produsen burger dan kentang goreng. Coba buka mata kalian sedikit lebih luas. Coba ramban internet dan lihat perbandingan antara rokok dan junkfood. Dua-duanya punya bahaya yang sama. Bedanya cuma, junkfood mengandung sedikit porsi vitamin. Tapi, kalau fakta picik ini dipake untuk menyimpulkan junkfood lebih baik dari rokok, ya kalian sama bodohnya dengan mereka yang kalian cap bodoh karena merokok.
Beberapa membenarkan junkfood dengan statement, "Ya jangan sampe tiap hari. Sekali-sekali nggak apa-apa lah." Kalau mendengar ini, makin ketawalah gue. Emang rokok ga bisa sekali-sekali?
Setelah itu ditimpal lagi, "Kan rokok aditif (bikin candu)!" Makin sulitlah membagi nafas untuk ketawa dan bernafas. Coba cicip lagi deh burger dan kentang goreng. Nggak nagih lagi? "Kan berhenti pas kenyang." Ya sama dengan makan, ngerokok juga ada begah-nya kali.
Gue bukan anti non-smoker. Gue tidak merokok di tempat-tempat yang tidak semestinya. Gue tahu aturannya. Gue hormati mereka dan pilihan mereka, tapi jangan lebay lah. Hormatin juga pilihan gue dan kawan-kawan perokok (yang tahu diri tentunya).
Rokok dan junkfood sama-sama berbahaya. Semuanya ada yin dan yang-nya. Kalau gue kehilangan beberapa menit dari hidup gue untuk merokok, gue anggap gue menghibahkan nafas gue itu ke puluhan ribu buruh rokok, supaya nafas setiap mereka bisa lebih panjang beberapa detik. Itu adalah pilihan. Sama hal-nya dengan kalian memilih untuk tidak merokok.
Dalam hal ini, segala usaha untuk 100 persen menghilangkan kebiasaan merokok adalah konyol, karena menurut gue, apapun itu, sesederhana apapun hal itu, seaman apapun itu yang kita konsumsi, ujung-ujungnya yang harus dikampanyekan adalah "KENDALIKAN DIRIMU".
Tampilkan postingan dengan label kepercayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kepercayaan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 05 Juni 2014
Senin, 27 Juni 2011
The Music of The Universe
Seperti kita tahu, atau menikmati namun tidak menyadari, musik adalah suatu temuan manusia yang "ajaib". Musik membuatku memahami bahwa manusia adalah bagian dari dua dunia, dunia jiwa dan dunia fisik, di mana manusia adalah segumpal jiwa yang berkeliaran di tengah jiwa semesta, dan sebagai automaton yang nyata di dunia fisik.
Musik adalah jembatan keduanya. Bagaimana anda menjelaskan betapa bernyanyi atau bermain alat musik bisa melepaskan kalut di dalam jiwa kita? Bagaimana kita bisa menjelaskan betapa mendengarkan musik bisa merubah mood seseorang secara drastis? Bagaimana kombinasi beberapa nada dan irama tersebut bisa menjadi jalan manusia "melepaskan" apa yang ada di jiwanya, mengkomunikasikan dirinya dengan jiwa dunia melalui media lantunan frekuensi, amplitudo, dan segala elemen suara, menggetarkan gendang telinga dan memberikan kesan tersendiri.
Belakangan ini aku juga menemukan sebuah video yang mendemonstrasikan bahwa tanaman pun mampu bermusik. Mistik? Tidak juga. Tanaman tersebut disambungkan dengan sebuah alat yang mengkonversi atau meng-amplify sinyal-sinyal (entah sinyal apa itu) menjadi kombinasi nada-nada yang mampu ditangkap telinga manusia. Terlepas dari kemungkinan bahwa itu hanya modifikasi dari aliran getah atau aktivitas tubuh tanaman yang menghasilkan bunyi super kecil, demonstrasi ini melahirkan ide bahwa musik adalah alat komunikasi segala bentuk jiwa di semesta ini.
Mungkin itu hanya detak jantung, deru darah dalam pembuluh kita, derap setiap langkah kita, tapi tanpa sadar tubuh kita pun memancarkan iramanya sendiri dan menghasilkan suatu harmoni unik bagi setiap orang. Lalu harmoni unik ini saling bertautan dengan harmoni-harmoni unik lainnya di dunia ini, baik manusia, hewan, atau tumbuhan, membentuk suatu mega orkestra, orkestra dari semesta. Dan dengan riset yang mendalam, bukan tidak mungkin kita menemukan keterkaitan harmoni tersebut dalam hubungan interpersonal. Bukan tidak mungkin juga kita menemukan bahwa menghibur diri dengan musik adalah sebuah proses tuning bagi mereka yang sedang kacau keharmonian jiwanya.
The only conclusion we have now is that music is something magical, and I don't mind saying it as a heavenly bless. Maybe it is something which was granted to help us to understand the universe, and to think as one, as the creation of the Almighty.
Musik adalah jembatan keduanya. Bagaimana anda menjelaskan betapa bernyanyi atau bermain alat musik bisa melepaskan kalut di dalam jiwa kita? Bagaimana kita bisa menjelaskan betapa mendengarkan musik bisa merubah mood seseorang secara drastis? Bagaimana kombinasi beberapa nada dan irama tersebut bisa menjadi jalan manusia "melepaskan" apa yang ada di jiwanya, mengkomunikasikan dirinya dengan jiwa dunia melalui media lantunan frekuensi, amplitudo, dan segala elemen suara, menggetarkan gendang telinga dan memberikan kesan tersendiri.
Belakangan ini aku juga menemukan sebuah video yang mendemonstrasikan bahwa tanaman pun mampu bermusik. Mistik? Tidak juga. Tanaman tersebut disambungkan dengan sebuah alat yang mengkonversi atau meng-amplify sinyal-sinyal (entah sinyal apa itu) menjadi kombinasi nada-nada yang mampu ditangkap telinga manusia. Terlepas dari kemungkinan bahwa itu hanya modifikasi dari aliran getah atau aktivitas tubuh tanaman yang menghasilkan bunyi super kecil, demonstrasi ini melahirkan ide bahwa musik adalah alat komunikasi segala bentuk jiwa di semesta ini.
| Some are starting to believe that music can actually heal, or at least grants one serenity in entering the other side |
Mungkin itu hanya detak jantung, deru darah dalam pembuluh kita, derap setiap langkah kita, tapi tanpa sadar tubuh kita pun memancarkan iramanya sendiri dan menghasilkan suatu harmoni unik bagi setiap orang. Lalu harmoni unik ini saling bertautan dengan harmoni-harmoni unik lainnya di dunia ini, baik manusia, hewan, atau tumbuhan, membentuk suatu mega orkestra, orkestra dari semesta. Dan dengan riset yang mendalam, bukan tidak mungkin kita menemukan keterkaitan harmoni tersebut dalam hubungan interpersonal. Bukan tidak mungkin juga kita menemukan bahwa menghibur diri dengan musik adalah sebuah proses tuning bagi mereka yang sedang kacau keharmonian jiwanya.
The only conclusion we have now is that music is something magical, and I don't mind saying it as a heavenly bless. Maybe it is something which was granted to help us to understand the universe, and to think as one, as the creation of the Almighty.
Rabu, 15 September 2010
Petuah Tua yang Terlupakan
Libur seharian tanpa ke mana-mana membawa saya bertemu dengan film ini. Sekilas, The Book of Eli hanyalah sebuah buku yang berisi kisah tentang seseorang yang kesepian dan bertualang di tengah dunia yang sudah hancur karena suatu bencana raksasa. Setelah ditonton, ternyata isinya tentang……. seseorang yang bertualang di tengah dunia yang hancur. Kisahnya memang biasa, namun “emas” dalam film ini bukan kisahnya, melainkan petuah-petuah tua yang terlupakan.
Sang pemeran utama, Eli, mendapat wangsit untuk melakukan perjalanan ke barat untuk mengantar sebuah buku yang sangat langka dan berharga. Dalam perjalanannya, Eli menghadapi banyak rintangan, terutama dari Carnegie, seorang pemimpin kelompok manusia tak beradab, yang bermimpi menciptakan dunia baru dengan bermodalkan rahasia 3 titik mata air di muka bumi (air bersih di dunia yang hancur itu hampir setara dengan emas pada zaman kita) dan buku yang akan dihantar Eli tersebut. Setelah melalui pelarian panjang dari kejaran Carnegie, Eli akhirnya menyerahkan buku tersebut demi menyelamatkan seorang wanita, Solara, yang menjadi teman perjalanannya sejak dari markas Carnegie. Eli ditembak, dan Solara ditawan. Untung saja Solara berhasil melarikan diri dan kembali mencari Eli yang ditinggalkan dalam keadaan terluka. Ternyata Eli sudah tidak ada di tempat ia ditinggalkan. Akhirnya Solara menemukan Eli sedang terus berjalan ke Barat, tanpa buku tersebut. Kalau begitu apa yang harus di antar? Eli ternyata sudah menghafal isi buku tersebut. Setelah mereka sampai di barat, Eli meminta seseorang menuliskan semua yang dia lafalkan, sehingga buku tersebut bisa dicetak ulang. Lalu, apa Carnegie berhasil membangun kembali peradaban manusia dengan buku tersebut? Tidak, karena buku tersebut ternyata tercetak dengan huruf Braille. Eli bisa membacanya karena dia ternyata mata kanannya ternyata buta. Setelah buku tercetak, Eli pun mati, dan Solara berniat kembali ke timur untuk mengajarkan isi buku tersebut ke tempat tinggalnya.
Beberapa twist dalam cerita ini memang menarik, tapi ada yang lebih menarik lagi. Satu pertanyaan yang belum terjawab adalah, “Apa sebenarnya isi buku itu?” Apakah pengetahuan sihir, silat, atau rahasia peradaban modern yang punya kekuatan dashyat? Tidak ketiganya. Buku itu tidak lain adalah Alkitab, kitab suci orang kristiani.
Yang berharga dalam film ini sebenarnya adalah sentilan-sentulan tentang keimanan dan agama yang ada di dalamnya. Film ini memang kisah tentang perjalanan kitab suci umat kristiani, namun nilai yang disampaikan adalah universal. Ada 2 kalimat yang menurut saya menyentil. Pertama adalah, “It doesn’t have to make sense. It’s faith!” Dalam bahasa Indonesia kira-kira berarti, “Memang tidak harus masuk akal. Ini keyakinan!” Ucapan ini terlontar ketika Eli dan Solara sedang berdebat tentang tujuan pasti dari misinya ke barat. Kalimat ini seperti sentilan untuk kaum skeptis yang memandang agama hanya sebuah alat pembodohan dan mobilisasi. Kaum ini biasanya selalu membenturkan agama dengan logika mereka yang terbatas, padahal salah satu konsep ketuhanan, bahwa Tuhan adalah sesuatu yang maha dashyat dan tidak bisa di pahami secara utuh oleh logika manusia yang terbatas, sudah membatalkan tesis mereka sampai ke akar-akarnya. Konsep Tuhan ada bukan karena logika, tapi karena iman.
Sentilan kedua yang saya dapati ketika Solara berkata, “Aku kira kamu tidak akan pernah mengorbankan buku yang sangat berharga itu demi menyelamatkanku.” Eli pun menjawab, “Aku sudah terlalu lama membaca buku itu sampai aku lupa untuk hidup dengan cara yang buku itu ajarkan.”Ini adalah sentilan bagi mereka yang percaya Tuhan, mengikuti ritualnya, dan menyebarkan ajaran Tuhannya ke orang lain, namun gagal untuk hidup sesuai ajaranNya, yaitu hidup dengan mengasihi orang lain dan membawa kedamaian di dunia.
Kitab suci memang sesuatu yang dashyat. Isinya bisa menggerakkan manusia melakukan sesuatu yang bahkan di luar akal sehat. Film ini mengingatkan kita bagaimana besarnya kekuatan keimanan tersebut, dan bagaimana pentingnya isi kitab tersebut untuk menuntun cara hidup manusia, terutama dalam saat-saat sulit. Hanya saja manusia semakin jatuh ke dalam kehebatan logika mereka, dan agama hanya sekedar menjadi potongan kebudayaan manusia yang hanya digunakan sebagai alat untuk mencapai keuntungan pribadi atau sekedar kebudayaan tua yang dilestarikan tanpa makna. Alhasil, tujuan hakiki dari turunnya ajaran tersebut pun kabur.
Sekarang saatnya duduk, refleksi, dan bertanya pada diri kita sendiri. Dari dua kelompok di atas, ada di kelompok manakah kita? Mudah-mudahan tidak keduanya.
Langganan:
Postingan (Atom)
